| Foto: Dok Pribadi |
Revolusi Mental Papua (RMP) -
Apakah orang Papua mengetahui pelaku pembunuhan, kecelakaan, saat bulan Desember?
Apakah dekatnya Natal
sehingga Tuhan mengambil setiap insani khusus
orang Papua harus adanya kematian?
Apa maksud dari orang
Papua untuk berhati-hati saat memasuki bulan
Desember atau hari besar umat Kristian?
Ada kesalah pahaman pertanyaan di atas yang harus diketahui sebagai
berikut :
Hati-hati mendekati bulan Desember atau hari besar Kristiani
karena banyak pengorbanan merajalelah."Kesempatan yang dimanfaatkan oleh
Pembunuh berencana atau Pembunuh bayaran di lakukan oleh kolonial Indonesia
untuk memusnahkan orang Papua demi perebutan Pulau Papua, kekayaan Tanah Papua
itulah Program Negara Kolonial NKRI dan Imprealis Amerika serta lainnya. Bukti
nyata program Genocide Dan ketidak pedulian para Kolonial kepada orang Papua
dengan kasus-kasus yang kejam, seperti dapat di gambarkan sebagai berikut:
Orang Papua akan lenyap
satu demi satu dengan berbagai cara dari para Kolonial NKRI (Negara Kesatuan
Replubik Indonesia) untuk Mewujudkan program Kolonial yaitu perebutan kekayaan
alam orang Papua, sebenarnya program-program rahasia NKRI adalah pemusnahaan orang
Papua untuk merebut pulau Papua dan segala isinya, sehingga program-program
yang telah dikeluarkan dan diterapkan sejak Tahun 1963 pada penyerahaan orang
Papua dan tanah Papua kepada Kolonial NKRI saat ini hanya merupakan pemusnahan.
Secara menyeluruh tidak dapat disebutkan satu persatu, namun sesuai kenyataan
saat ini kematian anak-anak Papua baik para tetua maupun mudah-mudih diseluruh
Tanah air dapat terlihat jelas bahwa dalam
satu hari mencapai target kematian 30-50 orang, dengan cara yang rezim yaitu
melalui dirumah sakit, tabrak lari
(kendaraan roda dua maupun roda empat), diculik,
digantung, perang suku, perebutan jabatan,
penembakan secara berkeliharan dengan
alasan tidak memiliki Indentitas (KTP), Penembakan secara berkeliharan dalam
aksi warga dan pemenjarahan aktivis-aktivis tanpa alasan akibat dalam membela
hak-hak yang harus dinikmati oleh orang Papua sehingga diracun melalui makanan.
Dan ada program khusus
melalui makanan,minuman,dan obat-obatan yang sudah diracuni oleh pembunuh
bayaran diperjualkan-belikan kepada Masyarakat yang masih membertahankan
Nasionalisme Orang Papua, yang memperjuangkan Hak menentukan nasib Orang Papua.
Sampai saat ini orang Papua
hanya tinggal berdiam tanpa aktivitas apapun, tidak ketahui dan tidak
mengetahui kejahatan-kejahatan sadis yang memusnahkan orang Papua dari para
kolonial yang hatinya pemusnahan terhadap orang Papua. Memang ada beberapa
orang Papua yang ketahui pelangaran-pelangaran yang terjadi di tanah Papua,
namun penguasa sudah memberikan “sebungkus
nasi jingko” kesukaan terhadap para anak-anak mahasiswa perantau,
pihak-pihak yang ditanggani persoalan-persoalan Papua, akhirnya tidak perna
untuk mengangkat dan melanjuti persoalan di Papua.
Sebagai anak-anak penerus
Papua entah kaum pria dan wanita perlu kembali pada sejarah Anak Papua/orang
Papua guna membertahankan Nasionalisme Orang Papua. Supaya tidak salah memahami
dan tidak rasis, sarah, membedakan satu
dengan lain, maka sebagai anak-anak penerus Papua perlu ketahui juga bahwa
siapakah yang disebut orang Papua di bumi cendrawasih?
Orang Papua adalah orang
yang berada di atas tanah Papua baik orang pendatang dari luar pulau Papua,
lahir besar diatas tanah Papua, dan orang asli Papua, yang menempati di atas
pulau Papua, entah itu paham agama yang berbeda, suku yang berbeda, daerah yang
berbeda,ras yang berbeda, namun yang terpenting adalah kesatuan pemahaman
PERJUANGAN PAPUA merdeka dan melawan sistem kolonial untuk bebas dari
keterikatan tali-tali penguasa yang membuat orang Papua tidak diangkap sebagai
ciptaan yang sama, di Intimindasi, diteror, dibunuh, dirampas, hak-hak yang
harus dinikmati oleh Orang Papua itu sendiri.
Dalam perjuangan Papua
menuju kebebasan dari penjajahan kolonial adalah memperjuangkan Hak Menentukan
Nasib Sendiri dan melawan Sistem,Imprealis, kolonial, Militarisme bukan melawan
pendatang bukan melawan suku, bukan rasis, bukan sarah, bukan melawan orang
Pendatang diatas Tanah Papua, tetapi yang diperlukan dalam perjuangan kebebasan
Papua Dari Kolonial penguasa adalah memahami arti Pembebasan, yaitu bersama
Kebenaran Sejarah Sang Bintang Kejora dan mendatangkan Revolusi, Persatuan
Tanpa Batas Perjuangan Sampai Menang.
Pemusnahan orang Papua
dari hari-kehari sedang terjadi hilangnya harapan dan pengharapan sampai
cucuran air mata keluar, berbagai kasus dapat kita temukan di kalangan masyarakat Papua entah telah tejadi puluhan tahun hingga terjadinya saat ini, seperti kronologi berikut:
Mendekati Bulan
Desember umat Kristen hati-hati : ”Terjadi cucuran air Mata di Manokwari Papua”
Pada
26-31/10/2016.
1.Tanggal
26/10/2016
Puisi dan kata kesedihan
Aku Vigal Pauspaus..
bukan datang dari luar sana..
dan juga bukan akan pergi tingalkan tempat ini,...
Karena aku tetap disini Sanggeng Manokwari Papua,..
akulah anak penerus leluhur, aku disini, ditanah ini,
diatas Tanah Papua..,
aku bukan mabuk Selamanya..
tetapi hanya beberapa jam saja..
nanti juga aku akan akan sadar dan bayar utang yang
aku makan..
dan aku pun masih dalam keadaan sadar bahwa saya belum
bayar lalu telpon Bapa ku untuk datang membayarnya..,
Akhirnya Bapa ku datang juga untuk memastikan bahwa
berapa harga yang saya utang...
Setelah Bapa ku mengetahui Harga yang saya utang,..
orang Tua ku berjanji dan kembali ke rumah Mengambil
Uang untuk membayar...,
sebentara orang tua ku dalam perjalanan..
aku diserang dan aku akhiri hidup ku...
Orang Tua ku kembali dari Rumah untuk membayar..,
Tubuh ku terlantar ditanah ku Sanggeng Manokwari..,
orang Tua ku teriak minta tolong kepada warga
Sanggeng...,
Terjadilah bantuan kepada orang Tua ku dan warga
memalang jalan bukan untuk pembalasan..,
Tetapi hanya pemalangan jalan..,
datanglah pihak keamanan NKRI tidak menangkapi dan
memahami aksi yang dilakukan oleh Warga..,
Bahwa warga hanya melakukan pemalangan jalan bukan
melakukan Penyerangan namun hanya karena kemarahan warga dan emosi.
Hati-Hatilah Penerus papua ini dekat Bulan Natal.
HATI-HATIlah
penerus Papua dihadapan mereka, karena BULAN DESEMBER Iblis datang bukan untuk
melindungi,tetapi untuk memusnahkan..
Cerita Vigal ditulis oleh
Nipson Murib activis AMP Komite Bali
Keamanan?
Bahasa keamanan adalah
bahasa Indonesia yang diatur dan ditetapkan dalam UU NKRI dan jelas bahwa
dengan tujuan mengamankan, menjaga, melindungi merupakan kewajiban mereka.
Orang yang tidak sekolah
pun dapat memahami kata keamanan, tetapi yang selalu salah dalam tugas tugas
keamanan di Papua, karena tugas keamanan di Papua menjadi petugas kejahatan artinya bahwa keamanan
menjadi pelaku kejahatan di Tanah Papua, maka terjadilah penembakan terhadap
warga Sanggeng Manokwari Papua, mengakibatkan beberapa warga yang terkena
luka-luka akibat tembakan KEAMANAN/POLISI dan Ada yang korban meninggal yaitu seorang
Aktivis WPNA wilayah Manokwari Onesimus
Rumayom.
Kejadian ini bisa katakan bahwa pembunuhan berencana, karena
kedatangan keamanan bukan untuk mengamankan, mendamaikan, malah membela pihak
Pembunuh dan penembak warga atau pihak korban
tanpa peringatan tembakan apapun sesuai aturan militerisme.
Berikut Kronologi dari Media KNPB MNUKWAR,
PENIKAMAN FIGAL PAUSPAUS DARI NON PAPUA.
Pada 26/10/2016
jam 21:45 WPB bertempat di sekitar Sanggeng Manokwari terjadi penikaman
terhadap anak Papua bernama "Vigal Pauspaus" asal Fakfak hingga isi
perut keluar. Penikaman ini dilakukan oleh seorang warga non Papua asal
Makasar.
Hal ini bermula ketika
Vigal makan disebuah warung makan disekitar kantor Golkar Sanggeng Manokwari
namun setelah makan Vigal belum bisa bayar makan tersebut karena uangnya kurang
sehingga dia menelpon orang tuanya untuk datang bayar.
Pada sekitar jam 22.00 WPB
malam Figal Pauspaus selesai makan nasi
kuning di salah satu warung di jalan Yosudarso tepatnya di depan Dealer Honda
namun ia tidak sempat membayar karena tidak memiliki uang sehingga ia menelpon
bapaknya dan datang untuk bayar, setelah ayahnya tiba dan ia menyampaikan bahwa
kalian bersabar karena saya juga muslim dan saya balik kerumah untuk ambil uang
untuk bayar dan setelah kembali namun
sudah terjadi penikaman terhadap anaknya.
Penikaman di depan Pos
penjagaan kepolisian, jarak antara polisi dan TKP sekitar 15 meter, namun
polisi membiarkan dan menonton kejadian penikaman, polisi juga membiarkan
pelaku penikaman dan tidak ditangkap. Atas kejadian tersebut sehingga, rakyat Papua
protes dengan membakar motor kepolisian di TKP dan warung makan serta jalan raya
dipalang dengan pembakaran Ban.
Mendengar hal tersebut
masyarakat Papua di Sanggeng langsung melakukan perlawanan dengan memalang
jalan-jalan. Aksi pemalangan oleh masyarakat ini berujung bentrok dengan aparat
kepolisian RI di Manokwari ketika aparat kepolisi berusaha untuk membuka palang
namun terjadi tarik menarik palang akhirnya aparat kepolisian mengeluarkan
tembakan rentetan yang mengakibatkan tewasnya salah satu masyarakat yang juga
anggota pengurus WPNA wilayah Manokwari "Onesimus Rumayom" dan
beberapa masyarakat sipil lainnya yang luka parah dan kini sedang dirawat di RS
Angkat Laut fasharkan manokwari.
Korban meninggal atas nama
“Onesimus Rumayom” umur sekitar ± 40 tahun korban adalah aktivis HAM dari WPNA
Menurut kesaksian anaknya bahwa ayahnya sedang mau keluar dari rumah untuk
membeli makan malam di warung namun selang 5 menit ayahnya di tembak aparat
kepolisian yang melakukan penyusunan di jalan Yosudarso dan jalan sepatu sanggeng.
Jenasah Alm. Onesimus
Rumayom berada di rumah sakit AL Manokwari dan korban penembakan atas nama Erik
Inggabouw umur 18 tahun ditembak di leher dan Tinus Urbinas 38 tahun di tembak
di tangan.
Kejadian malam jam 10.00 -
02.30 bentrok Papua dengan suku Makasar.
Pagi hari aparat gabungan melakukan
penyisiran terhadap orang Papua yang bikin kelompok dipingir jalan dan jatuh
korban sipil rakyat Papua. Korban orang Papua sebagian besar tidak diketahui.
Keluarga korban yang meningal belum bisa bawa mayat dari ruma sakit. Aparat
masi jaga ketat hinga berita ini dinaikan.
Situasi Manokwari sangat
tegang dan aparat kepolisian berjaga jaga di beberapa tempat disepanjang jalan.
dalam kejadian ini, polisis tidak memihak ke rakyat Papua namun polisi memukul
dan menyiksa rakyat sipil yang ada di sepanjang jalan raya, dalam kejadian ini
polisis juga memukul kepala suku besar manokwari obet ayok dan anaknya yang
sedang berusaha mengamankan. kebrutalan dari kepolisian sekitar 10 – 20 orang
terluka parah dan kena tima panas dari kepolisian.
Korban sebagian besar
rakyat Papua kena peluru tima panas dari polisi
dan peluru karet dari pihak aparat kepolisian. Kejadian ini dimulai
pada jam 09 .00 wp malam sampai berlanjut pagi hari dan masi
berlanjut tadi siang sampai malam ini masi tegang.
1.Fijai Pauspaus (malam) ditikam dari belakang oleh pemilik
warung orang belum diketahui.
2. Pascal Mayor (malam hari) paha kena peluru panas dari kepolisian
3. Ricky Inggabiuw (malam) kena peluru tima panas bagian leher, tengorokan
bocor dari polisi, sedang DARURAT dan pendaraan berlebihan keluar di mulut.
4.Ones Sebrinus Rumayom (malam) kena peluru tima panas dari
kepolisian, korban meningal
5.Martinus Urbinas (malam) kena peluru bagian tangan kiri dari polisi
6. Orgenes Asaribab (pagi) paha kena peluru, dan kepala bocor, korban
dipukul babak belur oleh aparat lalu diseret seperti binatang.
7.Antonius Rumruren, kena di bagian punggung mengenai peluruh karet
dari polisi
8. Markus Swabei (malam) paha kena peluru dari kepolisian
9. Obet Ayok Kepala suku BESAR
Manokwari bersama anaknya (pagi) dipukul oleh aparat Brimob dan polisi, anak
dari Obet Ayok babak belur.
11. Agustinus Wakum, (16 tahun) korban ditembak di lengan tangan kanan,
ditembak tgl 26 oktober mlm sekitar jam 11 .00, di samping Toko Sanggeng.
Korban adalah siswa SMA Negeri 02 Wosi.
12. Korban atas nama Ruben Epha (25 tahun)
Korban tertembak do tulang
punggung belakang.
Korban ditembak antara
Toko Mawar dan Toko Sanggeng pada jam 11 malam tanggal 26 Oktober 2016.
2. Tanggal
31/10/2016
Aku Agustinus Aun & Tasya Tanesia..
Mendekati bulan desember 2016..
Aku bersama
pacar ku ..
mencari ketenangan dan keteduan dibumi papua Manokwari
pantai Amban ..
Menikmati tiupan angin pantai bersama kekasih ku ..
Aku tidak membaca situasi yang terjadi di Manokwari
Papua..
Ternyata ada yang meraya lelah untuk membunuh,
menculik, memusnakan kami..
Tidak aku pikirkan jikalau sebentara situasi di Papua
tidak nyaman..
Tidak aku pikirkan harapan orang tua ku..
Tidak aku pikirkan pengorbanan orang TUA KU..
yang mengandung aku, yang menyusui aku dan membesarkan
aku Sampai di bangku kulia UNIPA Manokwari...
Aku tidak bertujuan untuk melupakan Penghorbanan kedua
orang Tua..
Aku hanyalah gunakan sedikit waktu untuk menikmati
suasana pacaran..
Aku mohon maaf Bapa... Mama.....
Engkau mengandung aku,
engkau membesarkan aku,
engkau Menggorbankan Tenaga Mu,
memerlukan waktu yang sangat panjang dan lama...,
tetapi aku pergi tanpa izin kepada kedua Bapa dan
Mama..
Bapa...Mana...
Aku menghakiri hidup ku hanya sedetikdik disini,di
pantai amban Manokwari bersama kekasih ku...
Penulis: Nipson Murib adalah aktivis AMP Komite Bali
Berikut Kronologi Menurut Media KNPB Manokwari.
KRONOLOGIS
PEMBUNUHAN DUA MAHASISWA UNIPA DARI OTK DI MANOKWARI.
KRONOGIS. =
Agustinus Aun Asal MERAUKE Umur 20 tahun dan pacarnya Tasya Tanesia
Sapulete 19 tahun Asal Ambon bapak Ambon Mama BIAK Papua. Ditemukan Mayat di
Pantai Amban dipinggir Pantai yang jalan menuju Distrik Pantai Utara MANOKWARI.
Agustinus Aun Semester III Teknik Listrik UNIPA. dan
Tasya Tanesia Sapulete semester III Di Fakultas Peternakan UNIPA.
Tadi siang sekitar Jam13.00 WP Agustinus Aun dapat SMS
Dari Pacarnya Tasya Tanesia Sapulete bahwa minta jalan-jalan ke Pantai Amban.
Agus sempat minta teman Asrama untuk jalan sama_ sama ke kesana namun teman
tersebut menolak tidak Mau, Sehingga Agus sendirian jalan keluar kedepan Asrama
dan ketemu kaka tingkat Aun di depan asrama Villanova, Kaka tersebut bertanya
Agus kemana kah? Jawab Agus kaka saya ke kampus jawab kaka tingkatnya Agus
Jalan Hati - Hati ya? Kata Agus, Siap kaka.
Satu jam kemudian ada salah satu orang ciri-ciri Asal
Ambon rambut Gimbal datang di asrama mahasiswa
KATOLIK Villanova dan kastahu Kaka Tingkat asrama Agus yang tadi berkata
hati _ hati bahwa Agus dapat Bunuh di Amban Pantai.
Kaka Agus tersebut Terkesut atau kaget langsung Dia
Marah kepada Pembawa berita bahwa ko sembarang saja, sembarang sekali bilang
saya punya anggota asrama dapat Bunuh ko stop ko pulang dari pada saya lipat ko
disini ko pulang! Akhirnya Pembawa berita takut dan dia bilang Maaf kaka dan di
menuju ke Fakultas Peternakan UNIPA dan kastahu temannya yang lain di Fakultas.
Ketemu Mayat: Sekitar Jam 16.00wp mendengar temukan
Mayat di Pantai Amban dekat kali Rantai Mandopi sehingga dari semua asrama -asrama
di Amban turun untuk pastikan Mayat ternya Mayat Agustinus Aun dan Pacarnya
Tasya Tanesia Sapulete sudah tidak ada Nafas.
Menurut Mahasiswa dan anggota KNPB Manokwari yang
turun ke tempat kejadian katanya Awalnya Polisi suda berada di Tempat kejadian
Lalu mereka tibah dari belakang.
Kondisi korban Tanggan Kanan Agus Putus tidak tahu
hilang dimana. Muka agus Terpotong Besar di testa, potongan di bagian belakang,
tikam diketiak.
Pacarnya sepertinya sebelum dibunuh diperkosa, lutut
kaki kiri Luka Potongan, tikam di Leher dan dibelakang.
Anehnya Tempat kejadian Tidak ada darah yang di ambur
di sekitar kejadian, di dedaunan atau rumput, tidak ada tempat bekas kaki yang
baku kejar. Sepertinya Dibunuh ditempat Lain Buang di Amban Pantai. Sebagai
barang bukti adanya “Satu Buah Taksi” berwarnah Biru yang ada tempat kejadian
jarak sekitar 20/30 meter dari Mayat. Ditemukan juga ada darah sekitar 3 Titik di
pintu kanan Taksi.
Sementara Mayat divisum di rumah sakit Umum Manokwari.
Sampai malam ini jam 01.04 WP belum dipulangkan ke rumah keluarga.
Alm.Agus Rencana Mayat di Pulangkan DI asrama
mahasiswa KATOLIK Villanova Amban.
Pembunuhan ini
sepertinya orang yang terlati dan Banyak Orang yang sudah berencara
untuk Membunuh.
Dengan Kronologi yang ada, maka disimbulkan bahwa:
Penikaman Vigal Pauspaus,Aktivis WPNA Onesimus Rumayom
dan Kedua Mahasiswa UNIPA adalah Pembunuhan berencana dalam Bulan Akhir October
2016 wilayah Manokwari.
Penulis: Nipson Murib
(Aktivis Aliansi Mahasiswa Papua
Komite Kota Bali)
Bulan Desember telah tiba adanya pemusnahan di Papua oleh
para kolonial yang memiliki hati yang kejam, perampokan, pembunuhan, pelecehan
terhadap perempuan, pemerkosaan, intimidasi, mengkambinghitamkan antar
pemerintah terhadap masyarakt lokalitas.
Pemusnahan manusia Papua secara liar sedang terjadi di
lingkungan masyarakat Papua yang berada di Papua maupun luar Papua. Karena
target yang diatur oleh para Klonial Indonesia adalah pemusnahan yang
besar-besar oleh para Kolonial Indonesia setiap bulan Desember. Maka waspadalah dalam menghadapi
bulan desember yang akan selalu dirayakan oleh orang Papua, karena target
pemusnahan selalu akan ada untuk menghabisbumikan manusia Papua di atas tanah
leluhurnya sendiri.
Lawan dan satukan hati demi orang Papua serta selamatkan
bumi Papua dari para kolonial. Jangan biarkan bangsa lain yang menggodamu
dan memusnahkan mu tetapi satukan tekat menuju pembebasan Papua, karena hari
ini adalah hari Anda untuk melawan. Salam Revolusi pembebasan Papua.
Kata Kunci: Genocide, Pemusnahan, Intimidasi, Revolusi,
Rasis, Militerisme.
Penulis adalah Aktivis Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali